Waktu memang tak pernah menunggu. Ia membuai. Membuat kita lelap. Entah di sudut mana, ia meninggalkan kita dalam rasa sesal karena kehabisan waktu. Padahal, waktu tak pernah habis. Ia hanya terus bergulir. Dengan iramanya yang konstant, ia meninabobokkan kita hingga lupa untuk bergegas.
Kita tertinggal, sementara ia terus melesat. Saya kerap berpikir, waktu ini seperti makhluk yang tak mau kalah. Selalu ingin jadi pemenang. Ia mencundangi kita. Mulai dari urusan kerja, umur, makanan, bahkan hati.
Iya. Buat saya, bukan hanya makanan yang punya masa kadaluwarsa. Cinta pun iya.
(via 8lemahireng8)
Hekyaa..buka inet malem-malem begini, pertama yang ketemu adalah ini..ahahaha :D
You say you hardly know exactly who I am
so hard to understand
But I knew right from the start, the way I felt inside,
if you read my mind
Aku ingin mencintaimu dalam diam, tanpa kata-kata manja.
Aku ingin mencintaimu tanpa air mata karena patah.
Aku ingin mencintaimu dalam doa, yang terlantunkan pada-Nya.
Aku ingin mencintaimu sedikit saja, karena hati ini seharusnya adalah milik-Nya.
Sungguh, lebih baik kita tak bersama jika tanpa restu dan izin dari-Nya.
Kadang sebaiknya begitu..
..untuk sayang yang begitu sederhana, tingginya perhatian tanpa meninggikan diri, serta kesediaan untuk turun dan mengimbangi lambatnya ritme yang aku punya tanpa merendahkan..
..untuk maaf, toleransi, pemakluman, dan penerimaan atas aku yang belum bisa menjadi baik..
Aku mohon, bersabarlah.. percaya deh, Allah bakal memberi yang terbaik kok.. :)
New Hopes… New Life… More Productive… ^^
Salim A Fillah dalam ‘Dalam Dekapan Ukhuwah’
(via nayasa)